Sebanyak 57,8 Persen Pelajar Menjadi Perokok Aktif, Kemenko PMK: Iklan Rokok Banyak Muncul Secara Daring

- Sabtu, 27 November 2021 | 22:53 WIB
iklan rokok banyak muncul secara daring
iklan rokok banyak muncul secara daring
SurabayaNetwork.id - Menurut data Kemenko PMK, 18,8 persen pelajar usia 13 sampai 15 tahun adalah perokok aktif, 57,8 persen pelajar perokok aktif, serta 60 persen tidak dicegah ketika membeli rokok. 
 
Adanya iklan rokok berpengaruh pada keterpaparan rokok pada remaja. Saat ini sudah sangat umum dilakukan pembelajaran daring, anak-anak kita banyak menghabiskan waktu dengan perangkat elektroniknya. 
 
"Maraknya iklan rokok di platform digital juga mempengaruhi ketertarikan remaja terhadap rokok,” papar drg. Agus Suprapto, M.Kes, selaku Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kemenko PMK dalam virtual talkshow yang diadakan Muhammadiyah Tobacco Control Network (MTCN) pada Sabtu (27/11/2021). 
 
 
Dalam kesempatan tersebut dipaparkan pula data dari London School of Public Relations (LSPR) bahwa terpaan iklan rokok melalui media online memiliki hubungan yang kuat dengan perilaku merokok. 
 
Sebanyak 100 persen remaja yang merokok akan tetap merokok setelah melihat iklan rokok, serta 10 persen remaja memiliki kecenderungan untuk merokok setelah melihat iklan rokok
 
Sementara itu, Agus mengatakan Kemenko PMK juga telah melakukan berbagai upaya pengendalian konsumsi tembakau, di antaranya dengan cara physical dan nonphysical.
 
“Kami di Kementerian sudah melakukan berbagai macam upaya dalam melakukan pengendalian konsumsi tembakau, baik melalui peraturan physical dan nonphysical,” terangnya.
 
Adapun langkah physical yang dilakukan di antaranya penyusunan tarif cukai dengan menjaga afordabilitas harga agar tidak tejangkau perokok pemula, penyederhanaan struktur tarif, dan melakukan kebijakan mitigasi. 
 
Kebijakan mitigasi tersebut mengatur 50 persen Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT), digunakan untuk program kesejahteraan masyarakat, termasuk mitigasi dampak kenaikan cukai bagi petani tembakau dan buruh pabrik rokok.
 
Sementara itu, kebijakan nonphysical yang dilakukan di antaranya, mengembangkan lingkungan sehat dan pelaksanaan regulasi kawasan tanpa rokok di daerah, memperluas layanan berhenti merokok dengan target 40 persen faskes di tingkat I di 300 kabupaten/kota, memastikan bansos tidak digunakan untuk membeli rokok. Selain langkah-langkah yang telah dicanangkan di atas, Agus juga mengatakan bahwa ini menjadi peran bersama.
 
 
“Ini menjadi peran kita bersama, tak hanya pemerintah. Kita bisa memulai peran sederhana kita dalam pengendalian konsumsi rokok dengan mengedukasi keluarga kita, khususnya yang masih berusia remaja. Semoga dengan adanya agenda hari ini, kita mampu mencari angle baru dalam permasalahan konsumsi rokok terutama pada remaja,” tandas Agus.***

Editor: Lukman Hadi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X